Jumat, 03 Maret 2017

MENGENAL JENIS KOLEKSI PERPUSTAKAAN DIGITAL


 Koleksi perpustakaan merupakan salah satu faktor utama dalam mendirikan suatu perpustakaan. Dengan adanya paradigma baru dapat disimpulkan bahwa, salah satu kriteria dalam penilaian layanan perpustakaan melalui kualitas koleksinya. Lantas bagaimana konsep koleksi pada perpustakaan digital. Menurut Glossary yang dikeluarkan oleh African Digital Library, yang dimaksud dengan koleksi digital adalah:
“This is an electronic Internet based collection of information that is normally found in hard copy, but converted to a computer compatible format. Digital books seemed somewhat slow to gain popularity, possible because of the quality of many computer screens and the relatively short 'life' of the Internet. ...”
Singkatnya koleksi digital sebenarnya dapat dipahami sebagai koleksi informasi dalam bentuk elektronik atau digital yang mungkin terdapat juga dalam koleksi cetak, yang dapat diakses secara luas menggunakan media komputer dan sejenisnya. Koleksi digital disini dapat bermacam-macam, dapat berupa buku elektronik, jurnal elektronik, database online, statistic elektronik, dan lain sebagainya.
Ada dua jenis model koleksi pada perpustakaan digital.

  •  Born digital: Pada jenis ini, koleksi perpustakaan sedari awal sudah terpublikasi dalam bentuk digital. Biasanya hal ini dapat diperoleh dengan melakukan pengadaan koleksi melalui penyedia koleksi digital atau database digital, baik membeli atau berlangganan. Cara pengadaan seperti ini biasanya akan menyedot anggaran yang sangat banyak hingga ratusan juta hanya untuk beberapa tahun saja. Model pengadaan yang seperti ini sangat tidak dianjurkan untuk perpustakaan yang minim dana. Hehe
  • Digital Surrogate: Koleksi pada perpustakaan digital jenis ini merupakan bentuk lain dari objek fisik atau teks suatu koleksi perpustakaan. Biasanya dilakukan dengan proses digitasi. Digitasi merupakan proses alih media dari cetak atau analog ke dalam media digital atau elektronik melalui proses scanning, digital photograph atau teknik lainnya.  Proses digitasi ini memerlukan banyak pertimbangan sebelum dilakukan proses digitasi. Hal ini karena proses digitasi biasanya memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Di samping itu dituntut adanya tenaga ahli yang cukup menguasai teknik digitasi ini. Investasi yang diperlukanpun tidak sedikit, karena perpustakaan perlu menyediakan alat dan sarana bagi proses digitasi ini. Satu hal yang cukup penting diperhatikan dalam hal proses digitasi adalah masalah penentuan koleksi atau analisis koleksi. Perpustakaan perlu melakukan skala prioritas koleksi yang harus digitasi dan tidak, hal ini dikarenakan tidak semua koleksi ‘dapat’ dan perlu di alih mediakan. Jenis koleksi yang kedua ini sepertinya dapat menjadi alternative bagi perpustakaan-perpustakaan yang hanya memiliki dana minim.
Referensi
Anonim. (2002). African Digital Library Glossary. Tersedia di http://www.africandl.org.za/glossary.htm
Cleveland, Gary. (1998). Digital Libraries: Definitions, Issues and Challenges. Occasional Paper 8. Ottawa: Universal Dataflow and Telecommunications Core Programme, International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA). Tersedia di http://www.ifla.org/udt/op/
Waters, Donald J. ( - ). What are Digital Libraries? CLIR Issues Number 4 – July / August 1998. Tersedia di http://www.clir.org/pubs/issues/issues04.html


Rabu, 01 Maret 2017

MENGENAL BERBAGAI GENERASI PERPUSTAKAAN





Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi mengalami berbagai perkembangan. Setidaknya ada 5 perkembangan perpustakaan dari generasi ke generasi. Perkembangan ini mencoba melihat dari sudut konsep “library as place” yaitu :
  1. Collection centric (generasi I): Pada generasi ini, sebuah perpustakaan hanya memfokuskan pada koleksinya saja. Dimana pustakawan beranggapan bahwa koleksi merupakan bagian yang paling penting di perpustakaan, maka tak ayal bagi generasi ini model gedung perpustakaan yang biasnya tebal dengan tujuan menjaga koleksinya. Dampaknya adalah ruang untuk pengguna perpustakaan menjadi terbatas. Sehingga budaya perngguna pada generasi ini hanyalah sekedar meminjam koleksi tanpa berlama-lama membaca di perpustakaan. 
  2. Client Focused (generasi II): Pada generasi kedua ini, perpustakaan lebih memfokuskan pada user, dimana layanan yang disediakan lebih banyak bertujuan untuk pemakai perpustkaan. Sebagai contohnya layar computer pada layanan sirkulasi perpustakaan, seharunya memiliki 2 layar yang menghadap pada pustakawan dan pemustaka. dengan begitu pemustaka dapat melihat koleksi apa yang sedang diproses pada layanan sirkulasi ini.
  3. Experience Centered (generasi III); Pada generasi ini, perpustakaan seakan memiliki sesuatu yang berbeda yang diberikan kepada pemustaka. Dengan sesuatu yang berbeda itulah perpustakaan paling tidak telah memberikan pengalaman atau experience pada pemustaka. sehingga pemustaka akan selalu mengingat hal itu.
  4. Connected Learning Experience (generasi IV): Pada Generasi keempat ini, perpustakaan sebagai lembaga yang memberikan pembelajaran pada pemustaka secara langsung. Biasanya bisa dengan cara mendatangkan pakar dari sebuah keilmuan, sehingga pemustaka bisa bertanya jawab dengan pakar secara langsung.
  5. Makerspace (generasi V): Pada generasi ini, konsep perpustakaan sebagai ruang tidak hanya sebagai tempat menyimpan koleksi buku. Tetapi lebih dari itu, yakni perpustakaan menyediakan segala macam kebutuhan yang sekiranya pengguna perpustakaan tersebut memerlukan. Misalnya saja, tempat reparasi laptop, charger laptop berbagai merek, tempat tidur bagi pemustaka, tempat makan dan minum, atau bahkan hal-hal yang tidak terpikirkan tapi dibutuhkan oleh pemustaka.
Dari penjelasan beberapa generasi perpustakaan diatas, kita dapat mengetahui dan setidaknya menilai pada generasi berapa perpustakaan yang ada disekitar kita, kita miliki atau kita kelola. Dari kemampuan menilai dan mengetahui tingkat generasi perpustakaan ini, dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan perbaikan. Misalnya apabila perpustakaan selama ini masih pada tingkat generasi 1 atatu 2, maka menurut saya perlu melakukan perubahan. Setidaknya perpustakaan dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Walaupun pada kenyataannya hal itu sangat sulit dilakukan di Negara Indonesia. Sebagai contohnya perpustakaan sekolah, dimana jenis perpustakaan ini di Indonesia masih banyak yang berada pada generasi tingakt 1. Koleksi cetak yang sangat banyak dengan jumlah space untuk membaca sangat minim. 

Referensi :
  • F. Priyanto, I. (2017). Pengantar ke Manajemen dan Disain Perpustakaan. Dipresentasikan pada Materi Kuliah Manajemen dan Disain Perpustakaan Sesi 2, Yogyakarta.

Sabtu, 25 Februari 2017

METADATA TAK SEKEDAR KATALOGISASI




 
Pengertian metadata sangatlah beragam. Menurut Wikipedia definisi sederhana dari metadata adalah data mengenai data. Metadata ini mengandung informasi mengenai isi dari suatu data yang dipakai untuk keperluan manajemen file/data itu nantinya dalam suatu basis data. Jika data tersebut dalam bentuk teks, metadatanya biasanya berupa keterangan mengenai nama ruas (field), panjang field, dan tipe fieldnya: integer, character, date, dll. Untuk jenis data gambar (image), metadata mengandung informasi mengenai siapa pemotretnya, kapan pemotretannya, dan setting kamera pada saat dilakukan pemotretan. Untuk jenis data berupa kumpulan file, metadatanya adalah nama-nama file, tipe file, dan nama pengelola (administrator) dari file-file tersebut.
Konsep metadata secara sederhana sejatinya ialah data yang mengatur data. Dalam dunia perpustakaan, konsep metadata seperti ini sudah dikenal sejak lama, walupun di kalangan perpustakaan tidak menggunakan istilah metadata. Sebagai contohnya adalah katalog perpustakaan. Katalog perpustakaan sebenarnya apabila dilihat dari elemen dasarnya adalah sebagai dokumen, dan apabila dokumen itu mengandung data, maka boleh saja dikatakan bahwa katalog sebagai data dari data. Di kalangan pustakawan memang tidak terbiasa menggunakan istilah metadata untuk menyebut katalog. Tetapi apabila dilihat dari sumber informasi dari katalog tersebut, sudah sangat jelas bahwa katalog merupakan salah satu jenis metadata. Perbedaan antara katalog dengan metadata adalah metadata memiliki scope yang lebih besar/luas daripada katalog. Kedua ialah bahwa masih banyak bagian dari metadata yang dilakukan di luar perpustakaan. Dan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah metadata yang baik menggunakan prinsip-prisip dasar katalogisasi.
Metadata yang biasa digunakan di perpustakaan adalah Marc dan Dublin Core. Untuk lebih jelasnya kita akan menguraikannya satu persatu.
Indomarc
Machine Readable Cataloging (MARC) merupakan salah satu hasil dan juga sekaligus salah satu syarat penulisan katalog koleksi bahan pustaka perpustakaan. Standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress, format LC MARC ternyata sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat negara lain turut mengembangkan format MARC sejenis bagi kepentingan nasionalnya masing-masing.
Format INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2719 untuk Indonesia, sebuah format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media yang terbacakan mesin (machine-readable) lainnya. Informasi bibliografi biasanya mencakup pengarang, judul, subyek, catatan, data penerbitan dan deskripsi fisik.
Indomarc menguraikan format cantuman bibliografi yang sangat lengkap terdiri dari 700 elemen dan dapat mendeskripsikan dengan baik kebanyakan objek fisik sumber pengetahuan, seperti jenis monograf (BK), manuskrip (AM), dan terbitan berseri (SE) termasuk; Buku Pamflet, Lembar tercetak, Atlas, Skripsi, tesis dan disertasi (baik diterbitkan ataupun tidak), dan Jurnal Buku Langka.
Dublin Core
Dublin Core merupakan salah satu skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Gagasan membuat standar baru agaknya dipengaruhi oleh rasa kurang puas dengan standar MARC yang dianggap terlalu banyak unsurnya dan beberapa istilah yang hanya dimengerti oleh pustakawan serta kurang bisa digunakan untuk sumber informasi dalam web. Elemen Dublin Core dan MARC intinya bisa saling dikonversi.
Metadata Dublin Core memiliki beberapa kekhususan yaitu memiliki deskripsi yang sangat sederhana, semantik atau arti kata yang mudah dikenali secara umum dan expandable memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Metadata yang digunakan dalam Dublin Core terdiri dari 15 unsur, yaitu:
  1. Title : judul dari sumber informasi
  2. Creator : pencipta sumber informasi
  3. Subject : pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
  4. Description : keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
  5. Publisher : orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
  6. Contributor : orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
  7. Date : tanggal penciptaan sumber informasi
  8. Type : jenis sumber informasi, nover, laporan, peta dan sebagainya
  9. Format : bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
  10. Identifier : nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasian sumber informasi. Contoh URL, alamat situs
  11. Source : rujukan ke sumber asal suatu sumber informasi
  12. Language : bahasa yang intelektual yang digunakan sumber informasi
  13. Relation : hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
  14. Coverage : cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
  15. Rights : pemilik hak cipta sumber informasi
Lantas bagaimana menjaga metadata dalam sebuah perpustakaan digital. Proses menjaga metadata dalam perpustakaan digital tentu berbeda dengan perpustakaan cetak. Karena sifatnya yang digital, metadata sangat rentan mengalami kerusakan atau bahkan kehilangan. Maka dari itu sangat penting untuk melakukan penjagaan metadata perpustakaan digital. Penjagaan ini bisa dilakukan ketika permulaan penciptaan perpustakaan. Dimana perpustakaan harus memiliki kesadaran sistem keamanan yang baik. Kebutuhan menciptakan kesadaran ini memang telah dilakukan diberbagai kesempatan sejak tahun 2008, yang diawali dari insiden kehilangan data. Sudah barang tentu adanya kehilangan semacam itu akan sebuah lembaga atau individu akan mengalami kerugian yang sangat besar.
Referensi

  • Beall, J. (2010). Measuring duplicate metadata records in library databases. Library Hi Tech News,    27(9/10), 10–12. https://doi.org/10.1108/07419051011110595

  • F. Priyanto, I. (2017). Metadata Perpustakaan Digital. Dipresentasikan pada Materi Kuliah Perpustakaan Digital Sesi 2, Yogyakarta.


  • Groenewald, R., & Breytenbach, A. (2011). The use of metadata and preservation methods for continuous access to digital data. The Electronic Library, 29(2), 236–248. https://doi.org/10.1108/02640471111125195

  • Zero - Center. (n.d.). Diambil 24 Februari 2017, dari http://zero-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-69655-Artikel%20Ilmiah-FUNGSIONALITAS%20METADATA%20DALAM%20PERPUSTAKAAN%20DIGITAL.html

Senin, 20 Februari 2017

LIBRARY DESIGN


 
Membahas mengenai desain perpustakaan yang menarik tidak akan berhasil secara optimal apabila kita tidak mengetahui akar permasalahan yang ada. Bagi sebagian orang, perpustakaan di Indonesia di kognisikan sebagai tempat untuk menyimpan buku dengan tata ruang yang biasanya sempit dan jauh dari kesan menarik untuk dikunjungi. Padahal desain dan ruang perpustakaan sangat berpengaruh pada pemakai perpustakaan. Baik focus desain pada penerapan tata cahaya, penerapan warna, penerapan suhu, sirkulasi udara, dekorasi ruangan hingga kenyamanan ruangan.
Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah seorang pustakawan. sering kali seorang arsitek kurang memperhatikan unsur estetika dan fungsi dari sebuah gedung perpustakaan. Maka dari itu sebelum membangun sebuah gedung perpustakaan perlu adanya perencanaan yang matang agar nantinya dapat menciptakan perpustakaan yang nyaman bagi pemustaka dan pustakawan. Untuk itu, pembangunan sebuah gedung perpustakaan harus memiliki setidaknya tim yang terdiri atas :
a. Arsitek
b. Pustakwan
c. Konsultan Pustakawan
d. Desainer interior
e. dan Kepala Lembaga.
            Lantas bagiamana gaya dan focus desain untuk perpustakaan di masa yang akan datang? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba memberikan beberapa unsur kunci yang diambil dari www.buildingfutures.org.uk, dalam mengembangkan perpustakaan di masa yang akan datang.
Pertama, Menentukan Prinsip Dasar.
Hal ini dapat dijelaskan dengan sebuah perpustakaan di masa yang datang harus memiliki prisip kenapa didirikannya sebuah perpustakaan. Misalnya untuk perpustakaan kota, tujuan dan fungsi dibangunnya perpustakaan kota ini sebagai pusat belajar masyarakat, sebagai tempat tujuan yang menarik, sebagai tempat public yang ramah dan nyaman bagi penggunanya. Sehingga perpustakaan kota dapat memberikan desain yang menarik sedemikian rupa agar dapat menarik minat warga masayarakatnya.
Kedua, Perpustakaan sebagai rumah kedua. 
Hubungan antara perpustakaan dan rumah sudah berubah, Karena lebih banyak pemustaka lebih memilih catalog online. Hal ini adalah salah satu dampak dari adanya internet. Maka dari itu perpustakaan sebagai lembaga informasi seakan dilupakan. Untuk itu penting untuk diberlakukan untuk perpustakaan dapat menarik pengunjung dengan cara memiliki dasain yang menarik dan unik. Sehingga fungsi perpustakaan yang salah satunya sebagai tempat bermain dan bersantai dapat kembali lagi.
Ketiga, menjadikan perpustakaan sebagai jendela dunia. 
Artinya adalah bahwa perpustakaan yang secara historis lebih banyak mengeksplorasi buku-buku, jurnal dan bentuk pendidikan dan desain yang ala kadarnya. Maka dengan perpustakaan di masa depan harus juga mencerminkan kebebasan, kesenangan, dan menggunakan teknologi sebagai tambahan. Transparansi antara desain eksterior dan interior akan lebih menarik disbanding salah satu diantara keduanya.
(Kurnia, n.d.)
Referensi :
Kurnia, N. (n.d.). Pengaruh Desain Interior terhadap Kenyamanan Pemustaka di Perpustakaan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah. Diambil dari https://www.academia.edu/15379954/Pengaruh_Desain_Interior_terhadap_Kenyamanan_Pemustaka_di_Perpustakaan_Dinas_Kelautan_dan_Perikanan_Provinsi_Jawa_Tengah